News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Dari Tim Pemenangan ke "Tim Kawal Pembangunan"

Dari Tim Pemenangan ke "Tim  Kawal Pembangunan"
Ilustrasi dari google


Oleh: Sil Joni*


Istilah 'tim sukses atau tim pemenangan' mungkin menjadi sangat terkenal, ketika demokrasi elektoral diterapkan secara langsung pasca tumbangnya rezim Orde Baru (Orba) tahun 1998. Kontestasi politik mulai dari level terendah pemilihan kepala desa (Pilkades) sampai yang paling tinggi pemilihan presiden (Pilpres), pasti menggunakan jasa 'tim pemenangan'. Semua kontestan yang berlaga dalam sebuah pertarungan politik pasti membentuk tim yang siap mengerahkan segala daya dan potensi agar impian menjadi kampium kontestasi bisa termanifestasi.

Baca: Gairah Politik yang Tak Tertahankan (Bukan 'Salah Tusuk')

Sesuai dengan namanya, tim itu bersifat temporal atau momental. Mereka hanya bekerja pada musim kontestasi. Ketika hari pemilihan tiba, maka logisnya 'tim itu' tidak bekerja lagi. Dengan kata lain, anggota tim hanya bekerja sampai hari pemilihan, terlepas seperti apa hasilnya. Jika kandidat yang diusung menang, tim itu tetap bubar. Hal yang sama juga berlaku ketika sang calon kalah dalam pertarungan itu.

Biasanya, tim yang bersifat ad hoc itu, selalu ada awal dan akhir. Sebagaimana pada awalnya, serangkaian ritual digelar. Demikian pun, ketika masa kerja tim itu berakhir, kerap ditandai dengan seremoni tertentu. Tetapi, mungkin bagi kubu yang kalah, acara pembubaran tim, jarang dibuat. Hal itu, tidak terlepas dari suasana psikologis yang diselimuti dengan rasa kecewa dan mungkin frustrasi sebab meski telah menelan ongkos yang fantastis, kinerja tim jauh di bawah standar.

Bagi kelompok yang menang, acara pembubaran tim, tetap menjadi atensi utama dan mungkin bisa dibaca sebagai bagian dari ekspresi rasa senang karena perjuangan selama ini, telah membuahkan hasil. Dengan penuh sukacita, semua anggota tim sepakat untuk menggelar acara khusus dengan tajuk: "Pembubaran Tim Pemenangan".

Kita tahu bahwa kontestasi Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) untuk 102 Desa di Manggarai Barat (Mabar), termasuk Desa Nggorang, telah digelar pada tanggal 29 September 2022 yang lalu. Hasil Pilkades di masing-masing Desa, hampir sudah diketahui secara definitif. Sebagai sebuah kompetisi, tentu dalam Pilkades kali ini, ada yang tampil sebagai pemenang dan lebih banyak yang keluar sebagai pecundang.

Apapun hasilnya, satu yang pasti bahwa masing-masing kandidat, memiliki tim khusus yang berjuang bersamanya untuk memenangkan pertandingan politik itu. Bonifasius Mansur, salah satu calon yang berlaga dalam Pilkades Desa Nggorang misalnya, tiga bulan sebelum hari puncak, sudah membentuk tim pemenangan yang umumnya sangat total dan dedikatif dalam menolong dirinya meraih ambisi menjadi kampium kontestasi itu.

Baca: Antara 'Pelesir' dan Kunjungan Kedinasan

Untuk diketahui bahwa Bonifasius Mansur tampil sebagai pemenang Pilkades Desa Nggorang. Beliau sukses meraup 373 suara dari sekitar 1300 wajib pilih. Dengan perolehan semacam itu, dirinya secara sah dan meyakinkan mendapatkan mandat publik untuk menjadi Kepala Desa (Kades) Desa Nggorang periode 2022-2028.

Kemenangan itu, tentu saja tidak terlepas dari kerja keras dan kerja cerdas dari anggota tim pemenangan. Kontribusi tim pemenangan, rasanya tidak bisa diabaikan begitu saja. Mereka telah berjuang secara optimal sehingga apa yang menjadi 'tujuan' dibentuknya itu, bisa terwujud. Misi dari tim itu sudah berhasil, yaitu mengantar Boni ke kursi kuasa sebagai Kades.

Karena itu, tadi malam (8/10/2022) Boni Mansur, anggota keluarga dan tim pemenangan mengadakan acara syukur sekaligus pembubaran tim pemenangan itu. Tetapi, saya berpikir, tim itu tidak semestinya dibubar jika kita membaca esensi dari pemberian dukungan politik kepada figur tertentu.

Nama timnya, mungkin diganti, tetapi spirit kerja tim itu tetap sama yaitu bagaimana 'memenangkan pertarungan' dalam memenuhi kebutuhan dasar publik di Desa Nggorang. Itu berarti tim itu punya kewajiban moral dalam mengkawal dan mendukung Boni untuk merealisasikan apa yang menjadi impian politik yang dinarasikan secara elegan selama kontestasi Pilkades itu.

Dengan demikian, intensi pembentukan itu, tidak hanya berhenti pada upaya merebut kekuasaan, tetapi yang paling penting adalah memastikan agar kekuasaan itu dipakai secara efektif untuk mengubah wajah Desa dan memperbaiki mutu kehidupan bersama di Desa Nggorang. Apa artinya kita sukses mengantar figur bersanding di kursi kuasa, jika hal itu relatif kurang berdampak bagi perubahan mutu kemaslahatan publik tersebab oleh kurangnya pasokan ide dan spirit positif dari 'tim pemenangan'.

Untuk itu, hemat saya 'tim' itu tidak perlu dibubar, tetapi ditingkatkan peran dan kapasitasnya. Jika sebelumnya, tim itu hanya bertugas mendesain dan mengeksekusi strategi meraih suara, maka selanjutnya tim itu mesti menjalankan fungsi kritis dan solutif agar sang Kades tidak keluar jalur. Tim itu harus kawal dan pastikan bahwa desain dan implementasi program dari Kades benar-benar pro pada kebaikan publik. Dengan itu, Sang Kades tampil sebagai 'pemenang sejati'. Beliau tidak hanya cakap dalam mendulang suara, tetapi juga cakap dalam menuntaskan visi, misi, dan program untuk kemajuan Desa Nggorang.

Baca: Pidana, Apa Itu?

Sama seperti saat kontestasi, jasa dan kontribusi tim sangat besar pengaruhnya, demikian pun ketika menjalankan mandat kekuasaan itu, sang Kades  tentu membutuhkan kontribusi dan pasokan energi kreatif dari tim. Berkolaborasi secara produktif dengan Kades  menjadi opsi cerdas dalam mengoptimalisasikan keberadaan tim itu. Tegasnya, Desa Nggorang dan mungkin Desa yang lain, sangat membutuhkan kerja sama yang baik dengan tim yang punya kepedulian yang besar terhadap proses pembangunan di Desa.


*Penulis adalah warga Desa Nggorang. Tinggal di Watu Langkas.

0 Komentar